Ramadhan dan Kemiskinan

Bulan ramadhan selalu datang tiap tahun itu sudah pasti, dan selama bulan tetap beredar maka syari’at berpuasa di bulan ini pun akan tetap wajib. Tradisi puasa ini bahkan telah berlangsung berabad-abad dan mentradisi bahkan sebelum kerasulan Muhammad SAW. Fazlur Rahman seorang tokoh neo moderenisme Islam menyebutnya sebagai sunnah atau tradisi yang hidup. Yaitu sebuah aktivitas ibadah (baik mahdlah yaitu aktivitas ritual formal maupun ghairu mahdlah yaitu mu’amalah) yang ada dan berlaku sebelum masa Rasulullah SAW., tetap bertahan dan dilanjutkan pada masa beliau dan sesudahnya. Bahkan telah mengalami penyempurnaan agar lebih mudah diaplikasikan oleh manusia sepanjang zaman sekaligus memperbesar pencapaian tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan sunnah atau tradisi yang hidup tersebut.

Walaupun penetapan tujuan hukum (maqhâsidh syar’iyah) dalam bidang ibadah selalu relatif setiap cabangnya, para ulama tetap meyakini bahwa keseluruhannya ditetapkan dalam rangka mewujudkan kemaslahatan sekaligus mencegah mafasadat (kerusakan) di muka bumi ini. Perwujudan dua hal tersebut tidak hanya dalam koridor hubungan baik manusia dengan Allah, tetapi juga antara sesama manusia maupun makhluk Allah lainnya. Termasuk dalam hal ini ibadah berpuasa, khususnya di bulan ramadhan.

Bulan puasa di bulan ramadhan yang dalam hadits dikenal sebagai ibadah ekslusif sebagai kesalehan ritual antara seorang hamba dengan Tuhannya, karena memang puasa itu untuk Tuhan (Ashisyâmu li wa ana ‘azzi bihi = puasa itu untukKu dan Akulah (Allah) yang membalasnya), akan tetapi kualitasnya tetap didasarkan pada kesalehan sosial atau hubungan baik hamba tersebut dengan hamba lainnya plus lingkungannya. Bahkan kualitas hubungan baik dengan sang Khaliq tersebut sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh kualitas hubungan seseorang dengan yang lain. Sebagaimana sabda Rasul :”Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan puasanya”. Perbuatan buruk seseorang terhadap orang lain secara tegas dinyatakan disini sebagai penyebab tertolaknya puasa kita oleh Allah.

Oleh karena itu bulan ramadhan ini merupakan momentum strategis dan kondusif dalam meningkatkan harmonisasi aplikatif hubungan baik seorang hamba dengan Tuhannya dan juga dengan kepekaan sosialnya terhadap hamba yang lain. Hal itu diwujudkan dalam mentransformasikan kematangan jiwa dengan cara meningkatkan sensitivitas kebersamaan, empati atau keprihatinan atas kondisi yang menimpa orang lain yang kurang beruntung, khususnya dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Meningkatnya empati seseorang ketika berpuasa disebabkan juga dia secara langsung mengalami betapa susah dan payahnya orang-orang miskin ketika hidup mereka serba kekurangan. Itulah perbedaan ketika perintah yang sama dilakukan di luar ramadhan.

Kemiskinan sudah menjadi bagian yang akut di negara kita Indonesia ini. Dari tahun ke tahun, angka kemiskinan di Indonesia meningkat. Di Surabaya saja misalnya berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko), angka kemiskinan dari tahun 2005-2007 terus mengalami kenaikkan. Mulai 111.233 KK (atau 377.832 jiwa) pada tahun 2005, 113.129 KK (atau 379.269 Jiwa) pada tahun 2006, dan 126.724 KK (431.331 jiwa) pada tahun 2007 Sedangkan dilihat dari anggaran yang dikucurkan setiap tahun juga mengalami kenaikan, pada tahun 2005 anggaran untuk pengentasan kemiskinan mencapai Rp 150 milyar, tahun 2006 Rp 188 milyar, dan tahun 2007 Rp 229 milyar. Sungguh merupakan kondisi yang memprihatinkan.

Pemerintah bisa saja berdarlih bahwa berdasarkan data statistik, jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) pada bulan Maret 2008 sebesar 34,96 juta orang atau 15,42 persen saja dari total penduduk di Indonesia. Tetapi faktanya kemiskinan ini bahkan pada tingkat yang mengkhawatirkan, karena berada pada level kualitas terendah. Sering kali standar miskin oleh pemerintah hanya bagi mereka yang tidak memiliki lapangan pekerjaan saja, padahal miskin di Indonesia sudah pada kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan pokok dan mendasar manusia seperti makan. Di Surabaya saja sebagai salah satu kota metropolitan pasien gizi buruk yang dirawat di rumah sakit milik Pemkot, RSUD dr Soewandhie, per tahun 2006 tercatat 88 penderita, tahun 2007 menjadi 135 penderita (130%) dan baru memasuki 2008, jumlah penderita sudah mencapai 16 orang. Kita bisa bayangkan bagaimana dengan kota-kota lain di Indonesia yang kualitas daerahnya jauh dari Surabaya, Papua dan Aceh misalnya.

Sedemikian besarnya derita kemiskinan yang dirasakan, banyak sekali masyarakat kita yang terkena tekanan kejiwaan. Sering ditemukan kasus pembunuhan, bunuh diri, bahkan ada yang tega membunuh buah hati mereka sendiri karena himpitan ekonomi. Benarlah sabda Rasulullah : “Hampir-hampir kemiskinan itu menjadikan seseoran kufur”. Para pelaku inipun juga memahami bahwa perbuatan mereka dilarang agama, akan tetapi deraan derita yang mereka rasakan terlalu besar, dan seakan-akan tidak berujung. Saifullah Yusuf pernah mengatakan; meski di Indonesia ada 650.000 lebih lembaga keagamaan lokal yang selama ini mendampingi masyarakat dalam bidang rohani, tetapi jika hanya mengkhutbahkan daftar keinginan normatif tentang “pahala”, “dosa”, “surga”, dan “neraka”, tidak akan mampu menghadang masalah kemanusiaan, terlebih kemiskinan.

Karenanya setelah secara langsung umat Islam merasakan payahnya derita orang-orang miskin dengan cara berpuasa, perlu dilanjutkan dengan aksi-aksi kongkrit mengentaskan kemiskinan ini, minimal mampu mengurangi tingkat derita yang dirasakan. Salah satunya dengan cara berbagi rasa dan rezeki dengan mereka. Salah satu amalan utama dan paling dicintai Rasulullah SAW. di bulan ramadhan adalah dengan mensedeqahkan sebagian rezeki yang dimiliki. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, bahkan diibaratkan lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus. Juga diriwayatkan dari Aisyah ra. Bahwa Rasulullah SAW. jika masuk bulan ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta. Demikian hal ini menjadi akhlak para sahabat, Bani ‘Adi misalnya tidak akan berbuka kecuali memanggil orang-orang di jalan dan anak-anak yatim agar ikut berbuka dengan mereka.

Di akhir ramadhan umat Islam diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah. Tujuannya adalah berbagi kebahagiaan kepada orang-orang miskin di tengah-tengah himpitan masalah kehidupan yang mereka jalani. Tentu momentum ini tidak saja hanya dilakukan di bulan ramadhan, karena seharusnya menjadi akhlak yang terus berkelindan di tengah-tengah kehidupan umat Islam. Dan hal itulah yang menjadi tolak ukur keberhasilan ramadhan yang dijalani seorang muslim. Itulah mengapa bagi mereka yang berhasil disebutkan kembali fitrah. Fitrah tidak hanya berarti suci dari dosa yang selama ini difahami kebanyakan orang. Karena suci dalam bahasa arab berarti quddûs. Sedangkan fitrah memiliki makna kembali kepada bentuk semual. Itulah fitrah Allah yang ditanamkan kepada manusia. Yaitu Devine characters atau karakter Ketuhanan seperti rahmân dan rahîm atau rasa kasih dan sayang kepada sesama makhluk dan razzâq atau mudah berbagi kepada orang lain. Jika minimal dua karakter itu saja kembali tumbuh bahkan mendominasi dalam diri seorang muslim setelah berpuasa, maka dialah orang yang menang dan kembali fitrah setelah bulan ramadhan.

Wallahu a’lam bi Ash-shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: