Perdagangan dan Asuransi

Pengantar

Pada prinsifnya Islam mengakui semua kegiatan ekonomi manusia yang halal -kegiatan yang sesuai dengan jiwa Islam. Perniagaan, mitra usaha perdagangan, koperasi, perusahaan, saham bersama, adalah kegiatan dan operasi ekonomi yang halal (Q.S. Al-Baqarah 2:275). Tapi Islam mengatur kegiatan niaga yang dimaksudkan untuk memastikan bahwa semua hal ini akan dilaksanakan dengan jujur tulus dan bermanfaat. Nabi berkata: “Adalah bersama nabi-nabi saudagar yang tulus dan jujur, demikian pula orang yang setia dan syahid.” (HR. Tirmidzi).

Demikian pula halnya dengan praktek asuransi, selama hal itu sesuai dengan  konsep (jiwa) Islam maka tentunya praktek tersebut menjadi boleh, bahkan dianjurkan. Bukankah Rasulullah saw. Pernah bersabda “yang terbaik di antara kamu adalah yang memperlakukan keluarganya dengan sebaik-baiknya”. Mengenai bagaimana konsep Islam tentang perdagangan dan asuransi ini akan penulis bahas dengan singkat dan sederhana dalam resume kali ini.

Perdagangan

Prinsif Dasar

Prinsif dasar yang telah ditetapkan Islam mengenai perdagangan dan niaga adalah tolak ukur dari kejujuran, kepercayaan, dan ketulusan. Dewasa ini banyak ketidak sempurnaan pasar, yang seharusnya dapat dilenyapkan bila prinsip ini diterima oleh masyarakat bisnis dari bangsa-bangsa berada di dunia. Prinsip perdagangan dan niaga ini telah ada dalam al-Qur`an dan Sunnah, seperti mengenai dilarangnya bersumpah palsu demi mengelabui konsumen dan memberikan takaran yang tidak benar, serta perlunya menciptakan tikad baik dalam setiap transaksi bisnis.

Perdagangan dan perniagaan dalam Islam secara pokok berbeda dengan pengertian modern tentang perdagangan dan perniagaan. Perdagangan dan perniagaan dalam Islam dihubungkan dengan nilai-nilai moral, sedangkan perdagangan dan perniagaan modern tidak demikian. Karena itu, semua transaksi bisnis yang bertentangan dengan kebajikan tidaklah bersifat Islami. Dan negara Islam punya hak sepenuhnya untuk mengekang setiap transaksi atau praktek apa saja yang berusaha menarik keuntungan dari kebutuhan atau penderitaan rakyat miskin.

Berikut ini akan kita bahas beberapa aspek perdagangan baik yang sesuai dengan jiwa Islam ataupun tidak.

A. Perdagangan Barter

Perdagangan ini pernah merupakan praktek sehari-hari yang berlaku. Walaupun volumenya sekarang sudah banyak berkurang tetapi arti penting perdagangan ini sampai sekarangapun tidaklah dianggap kecil. Islam juga telah mengakui perdagangan barter seperti dinyatakan dalam al-Qur`an dan Sunnah. Islam menekankan pada para pedagang agar barang atau benda yang cacat dan tidak berharga tidak diberikan sebagai pengganti barang dan benda yang baik. Dan juga barang dan komoditi untuk dijual haruslah berlaku pada pasar terbuka, dan pembeli serta agennya harus mengenal keadaan pasar secara besar-besaran. Serta seharusnyalah penjual tidak diperkenankan untuk menarik keuntungan dari ketidaktahuan pembeli akan keadaan pasar dan harga yang berlaku. Demikian pula, Islam sangat menentang berdagang berhala dan minum/makan haram, seperti : anggur, daging babi dan hewan yang mati tanpa disembelih. Semua hal ini jelas sekali ditetapkan Nabi.

B. Usaha Monopoli

Dalam perekonomian Islam yang terpenting ialah keinginan untuk mencapai keuntungan sosial yang sebanyak-banyaknya. Karena itu tiap kegiatan ekonomi yang mungkin merintangi tercapainya tujuan ini tidak dapat dinyatakan bersifat Islami. Dinilai dari norma kebajikan dan pemeliharaan untuk golongan miskin tidak mungkin kita menganjurkan usaha monopoli dalam Islam. Karena pada umumnya si pelaku monopoli menetapkan harga yang lebih tinggi bagi hasil produksinya, maka sosial eksploitasi banyak sekali dihubungkan dengan gagasan monopoli.

Para konsumen, pekerja miskin, dan masyarakat secara keseluruhan pun menjadi korban dari suatu tatanan ekonomi yang didominasi monopoli seperti itu -suatu tatanan yang telah memperlihatkan tiadanya harmoni antara kepentingan pribadi dan sosial, antara milik pribadi dan sosial. Karena itu, suatu negara Islam seharusnya mengutuk jenis tatanan ekonomi seperti ini dan harus dapat mengendalikan monopoli, baik dengan membuat undang-undang atau dengan perencanaan ekonomi secara menyeluruh. Perlu dicatat disini bahwa dalam beberapa kegiatan (yaitu perusahaan-perusahaan pelayanan masyarakat) mungkin monopoli tidak bertentangan dengan jiwa Islam, karena persaingan dapat menyebabkan terjadinya pemborosan sumber daya.

C.  Usaha Spekulatif

Sebagaimana halnya monopoli, Islam juga melarang usaha spekulatif. Yaitu bentuk usaha yang pada hakekatnnya merupakan gejala untuk membeli sesuatu dengan harga murah pasa satu waktu dan menjual barang yang sama dengan harga yang mahal pada waktu lain. Sejauh spekulasi memberikan jasa sosial dengan membantu produksi dan mengawasi fluktuasi harga yang mendadak, maka hal itu sesuai dengan jiwa Islam. Namun bila diamati secara cermat, terungkaplah kenyataan bahwa para spekulan itu pertama-tama tertarik pada keuntungan pribadi tanpa memperdulikan masyarakat banyak. Karena spekulasi sempurna cenderung menghancurkan diri sendiri, maka kebanyakan spekulan, dengan cara yang tidak jujur berusaha menciptakan kelangkaan barang dan komoditi secara dibuat-buat, dengan demikian terciptalah suatu tekanan inflasi pada ekonomi.  Dari segi kebajikan, Islam mengutuk praktek spekulasi seperti ini.

Prof. Lerner telah mengemukakan bahwa kejahatan spekulasi yang agresif, paling baik bila dicegah dengan apa yang disebutnya bisnis spekulatif, yang dikendalikan oleh “kontra-spekulasi”. Pemerintah hendaknya membentuk suatu badan yang membuat perkiraan harga yang tepat, dan menggunakan sumber dayanya untuk membawa harga yang sesungguhnya ke tingkat ini. Bila diperlukan, negara Islam harus mengembangkan sistem demikian, sehingga rakyat miskin, bahkan seluruh masyarakat dapat diselamatkan dari eksploitasi para spekulan yang terkutuk. Sesungguhnya, prinsip perekonomian Islam merupakan perpaduan harmonis antara nilai moral dan material.

D.  Perdagangan Internasional dan Banting Harga

Secara historis Islam menganjurkan perdagangan internasional. Bukan hanya untuk kerja sama ekonomi, tapi juga untuk membentuk persaudaraan sejagat raya dengan saling bertukar ide dan pengetahuan. Oleh karena itu pasti timbul tingkat teknik yang berbeda di antara daerah perdagangan Islam yang secara efektif melakukan transaksi niaga dan perdagangan. Tingkat dan teknik ini harus berubah dengan berubahnya keadaan waktu. Para ahli ekonomi klasik memilih suatu kebijakan perdagangan bebas dan mereka menentang kebijakan proteksi karena menurutnya hal ini merintangi alokasi sumber daya yang paling efisien di seluruh dunia. A. Manan dapat menerima kebijakan perdagangan bebeas ini dan yakin bahwa tiap negeri akan menghasilkan barang yang diproduksi berdasarkan keuntungan alami dan keuntungan yang diperoleh, kemudian mereka menghasilkan barang ini lebih banyak daripada pertukaran surplus barang yang kurang cocok dihasilkan dengan negeri lain atau barang yag tidak dapat diproduksinya sama sekali. Dengan kata lain, Islam percaya akan doktrin abadi biaya komparatif -yang menjadi inti dasar perdagangan internasional.

Banting Harga

Bahasan tentang perdagangan internasional ini tidak akan lengkap bila tidak menyinggung masalah dumping (banting harga) dalam bidang perdagangan. Tujuan dumping biasanya adalah :

a. Untuk menghabiskan persediaan yang berlebihan karena kekeliruan menilai permintaan.

b.      Mengembangkan hubungan perdagangan baru dengan menetapkan harga yang rendah

c. Mengeyahkan pesaing pasar asing, produsen asing, atau pribumi, dan

d.      Memungut keuntungan sebesar-besarnya dalam perekonomian.

Apapun yang mungkin menjadi pertimbangan  dumping akhirnnya bertujuan untuk mencapai tatanan ekonomi yang didominasi monopoli dengan menghalau produsen pribumi maupun asing dari bidang nasional maupun internasional, karena itu mengeksploitasi massa rakyat luas. Semua hal ini bertentangan dengan kebajikan dan mereka yang turut dalam praktek demikian berusaha mengambil keuntungan dari kebutuhan dan kemelaratan sesama manusia karena itu dumping bertentangan dengan jiwa Islam.

Asuransi

Dasar Berasuransi

Firman Allah swt. dalam kitab suci al-Qur`an :

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”. (Q.S. Hud, 11:6)

“…dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan yang lain? …” (Q.S. An-Naml, 27:64)

Maksud dari ayat-ayat ini tidak berarti bahwa Allah menyediakan makanan dan pakaian kepada kita tanpa usaha.Sebenarnya, semua ayat itu membicarakan tentang ekonomi di masa depan yang penuh kedamaian, yang selalu dibayangkan Islam. Dan seperti yang dinyatakan dalam Islam bahwa manusia sebagai Khalifah Allah di Buni, hanya dapat mempertahankan gelarnya yang Agung bila melaksanakan Perintahnya tersebut dengan penafsiran yang tepat. Allah menghendaki tiadanya orang yang kehilangan mata pencahariannya yang layak, dan ia harus kebal terhadap setiap gangguan apa pun. Olah karena itu adalah kewajiban tertinggi dari suatu negara Islam untuk menjamin hal ini. Dan asuransi membantu tercapainya tujuan ini.

Ada sekelompok orang yang tidak dapat membedakan antara asuransi dengna perjudian. Mereka menyamakan asuransi dengan spekulasi. Padahal dengan asuransi orang yang menjadi tanggungan dari seorang yang meninggal dunia terlebih dapat menerima keuntungan lumayan untuk sejumlah uang yang telah dibayar almarhum sebagai premi. Tampaknnya hal ini seperti sejenis perjudian. Tapi perbedaan antara asuransi dan perjudian adalah fundamental, karena dasar asuransi adalah kerja sama yang diakui dalam Islam. Asuransi mengajarkan kepada kita perlunya saling membutuhkan dalam masyarakat. Hakikat dari semangat ini sangat membantu tercapainya tujuan persaudaraan di seluruh dunia.

Antara Asuransi Modern dan Asuransi Islam

Asuransi Islam berbeda dari asuransi modern secara mendasar, baik dari sudut pandang bentuk maupun sifat. Sejarah asuransi masih belum tercatat, hanya tonggak sejarah evolusinya yang diketahui. Dalam evolusi umum, dapat dibedakan tiga jenis asuransi, sedikit banyaknya mandiri, tidak secara berturut-turut, tetapi sering dan terus bergantian jenisnya. Ketiga jenis ini dapat disebut koperatif, kapitalis, dan pemerintah.

Organisasi asuransi atas dasar koperatif dimotivasi oleh sebab yang sama pada hakekatnnya mengikuti perkembangan yang sama baik di zaman modern, maupun di zaman kuno. Suatu negara Islam seharusnnya menganjurkan pembentukan suatu industri asuransi yang dimotivasi oleh jiwa koperatif karena gagasan koperasi diakui dalam Islam. Jenis asuransi kapitalis, adlah usaha asuransi yang sesungguhnya lahir dari asuransi laut yang berasal dari romawi. Asuransi ini dibentuk untuk mendapatkan laba dan didasarkan atas perhitungan niaga. Kehidupan ekonomi yang sangat berbeda di akhir abad kesembilan belas ini membawa banyak keuntungan budaya disertai bahaya dan persyaratan baru. Hampir semua negara melihat betapa pentingnnya pertumbuhan berbagai industri asuransi.

Sesungguhnya, dengan bertambah pentingnnya arti industri asuransi di mana-mana mengakibatkan perundang-undangan pengawasan negara yan glebih efektif mengenai kelakuan dan bentuk kebijakannya. Sejumlah negara seperti; India, telah menasionalisasi industri auransi. Bagi suatu negara Islam, hal yang penting bukanlah apakah industri harus dinasionalisasi, tetapi pertimbangan utamanya adalah apakah diorganisasi dengan suatu cara yang dapat meningkatkan kesejahteraan umat manusia, dengan memperhatikan perintah yang terdapat dalam al-Qur`an dan as-Sunnah.

Demikianlah di suatu negara islam, asuransi harus dikembangkan dan diperluas pada skala nasional. Asuransi kematian dapat diserahkan pada perusahaan swasta. Asuransi bagi orang berusia lanjut, pengangguran, sakit dan luka disokong oleh pemerintahpada skala nasional, sehingga seluruh bangsa dapat bertanggung jawab secara bersama-sama untuk menyediakan dana bagi mereka yang sakit, tua, tidak terurus, atau pengangguran. Disamping premi, suatu pemerintah Islam juga mempunyai zakat yang dapat digunakan untuk kesejahteraan sosial. Hal ini sangat mirip dengan rencana Natioanal Insurance di Inggris yang meliputi semua resiko ekonomik dari semua orang, mulai dari buaian samapai ke liang kubur. Satu-satunya perbedaan adalah pasiva tidak akan digunakan dalam usaha berbunga.

Kesimpulan dari bahasan diatas, perbedaan antara industri asuransi modern dan industri asuran Islami tidak hanya terletak dalam bentuknnya, tetapi juga dalam sifat penanganan usahanya. Dewasa ini kecenderungan untuk membentuk asosiasi yang mirip kartel dari usaha dalam bidang asuransi dan reasuransi dalah pengingkaran terhadap nilai-nilai hidup Islami. Kita mengetahui bahwa industri asuransi modern menamkan dananya dalam usaha berbunga. Tapi perusahaan asuransi Islam malah akan menyediakan pinjaman modal, baik secara langsung atas dasar mudarabah atau dengan berpartisipasi dengan bank Islam dan lembaga kredit khusus lainnya. Kemungkinan untuk membuka departemen asuransi dalam bank Islam juga patut dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: