Diskursus Kekerasan Agama dalam Rumah Tangga

Rumah tangga merupakan lembaga yang terbentuk karena faktor perkawinan. Selama ikatan perkawinan masih terjalin maka lembaga ini masih tetap ada. Perkawinan sendiri menurut undang-undang perkawinan 1974 adalah merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan menurut agama tidak jauh berbeda dengan pengertian di atas hanya perlu mendapat penekanan pada substansinya yang dilihat sebagai suatu ikatan yang suci karena dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan dilakukanpun dengan mempergunakan nama Allah, yaitu ketika saling meminta satu dengan yang lain, sebagaimana diingatkan dalam surat an-Nisâ ayat 1 berikut “…dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain”.

Perkawinan juga diistilahkan dengan kata pernikahan. Dan dalam Islam hukumnya wajib dilaksanakan bagi yang mampu secara lahir dan batin. Ibnu Taymiyah bahkan menegaskan bahwa orang yang enggan untuk menikah tidaklah termasuk golongan Rasulullah SAW. maupun nabi-nabi terdahulu. Akan tetapi sebagaimana syari’at Islam yang lain. Pernikahanpun dilakukan bertujuan mulia untuk kebaikan manusia di dunia maupun di akhirat. Sepasang suami istri menurut Ayidah Ahmad Shahal, ketika memilih dan memutuskan menempuh hidup bersama dalam bahtera rumah tangga tentu mempunyai cita-cita mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan. Maka untuk mewujudkan hal tersebut, bahtera rumah tangga harus selalu dijaga. Sebab kebahagiaan tidak datang dengan cara kebetulan, tetapi diwujudkan dengan berbagai usaha. Salah satunya adalah selalu menjaga perasaan dan mewujudkan pemenuhan kebutuhan masing-masing pasangan.

Selain untuk kepentingan suami istri menikah juga hendaknya ditujukan sebagai sarana dakwah, meneguhkan iman, dan menjaga kehormatan. Pernikahan merupakan sarana dakwah suami terhadap istri atau sebaliknya, juga dakwah terhadap keluarga keduanya, karena pernikahan berarti pula mempertautkan hubungan dua keluarga. Dan dalam sekup yang lebih luas, merupakan dakwah Islam bagi seluruh umat manusia karena di dalamnya terkandung hikmah yang sangat besar. Di antara hikmahnya menurut Al-Jazairi dalam kitabnya Minhâj al-Muslim adalah; 1. melestarikan manusia dengan perkembangan biak yang dihasilkan melalui nikah, 2. kebutuhan pasangan suami istri terhadap pasangannya untuk memelihara kemaluannya dengan melakukan hubungan seks yang terhormat dan suci, 3. kerjasama pasangan suami istri dalam mendidik anak dan menjaga kehidupannya, 4. mengatur hubungan seorang laki-laki dengan wanita berdasarkan prinsip pertukaran hak dan bekerja sama yang produktif dalam suasana yang penuh cinta kasih serta perasaan saling menghormati satu sama lainnya.

Secara fitrah, apabila suatu pernikahan dilakukan berdasarkan aturan Allah, maka akan memberikan ketenangan batin (ithmi`nân al-qalb) bagi pelakunya. Karena Allah lah yang mencurahkan cinta dan kasih-sayang kepada manusia. Setiap orang tentu memiliki asa yang sama tentang bahtera rumah tangganya, yaitu ingin bahagia; sakînah mawaddah warahmah. Ada yang mampu mewujudkan hal tersebut secara mudah, namun tidak sedikit yang mengalami kesulitan, bahkan bahtera rumah tangga harus terombang ambing dalam badai konflik dan akhirnya terhempas hancur ke karang tajam perceraian. Fakta-fakta buruk kehidupan rumahtangga yang terjadi di masyarakat seolah makin mengokohkan asumsi sulitnya menjalani kehidupan rumah tangga. Bahkan, tidak jarang, sebagian orang menjadi enggan menikah atau menunda-nunda pernikahannya. Salah satu fakta buruk tersebut adalah merebaknya tindakan kekerasan, seperti pemukulan seorang suami kepada istrinya. Tindakan pemukulan tersebut bisa terjadi karena faktor dorongan individu si suami yang memang ringan tangan, tetapi ada juga yang melakukannya karena sebagai solusi untuk menyadarkan istri dari kesalahan yang dilakukannya.

Memukul adalah salah satu dari kategori kekerasan dalam rumah tangga, yaitu kekerasan fisik. Dalam Islam tindakan memukul istri sebagai arti dari kata Idhribûhunna hanya terdapat dalam surat an-Nisâ ayat 34. Kata tersebut melahirkan diskursus pemahaman yang berbeda dari para ulama, yaitu;

1. Kebolehan memukul Istri

Ini merupakan faham dari golongan terbesar ulama (jumhûr). Golongan ini secara tegas mengartikan kata Idhribûhunna dalam ayat tersebut secara etimologis dengan “pukullah mereka (istri)”. Dari pemahaman etimologis itulah dikeluarkannya fatwa bolehnya memukul istri karena berlaku nusyûz. Sebagaimana yang dikatakan ad-Dhahak dalam tafsir ath-Thabari; “laki-laki adalah pemimpin wanita karena kelebihan yang dimilikinya. Laki-laki memerintahkan wanita untuk ta’at kepada Allah, dan apabila ia enggan maka ia berhak memukulnya dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas (melukai)”. Bahkan dengan lebih keras dalam kitab tafsirnya al-Bahr al-Muhîth, Abu Hayyan al-Andalussi (w. 745 H) berpendapat: “(Dalam menghadapi isteri yang nusyûz), seorang suami mengawali dengan nasihat yang lembut, jika tidak bermanfaat maka bisa dengan kata-kata kasar, kemudian meninggalkan ranjang dan tidak menggaulinya, kemudian dengan berpaling dari isteri sepenuhnya, kemudian bisa memukul dengan ringan; seperti tempeleng atau cara lain yang membuatnya merasa terhina dan jatuh martabatnya, kemudian bisa memukul dengan cambuk atau galah lembu atau sejenisnya yang bisa membuatnya sakit dan jera, tetapi tidak boleh mematahkan tulang atau mengucurkan darah. Jika semua itu tidak membuahkan hasil, suami bisa mengikat sang isteri ke suatu tempat dengan tali, lalu dipaksa melayani hubungan intim. Karena semua itu adalah hak suami”.

Kebolehan memukul ini juga didasarkan pada hadits dari ‘Ikrimah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “pukullah mereka (istri) apabila menentangmu dalam kebaikan, dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas“. Jelas hadits tersebut juga memaknainya sebagai pukulan, diperkuat dengan kata pukulan yang tidak meninggalakan bekas. Sifat tidak meninggalkan bekas atau luka memang lebih tepat merupakan karakter dampak dari suatu pukulan.

Konsep memukul istri ini diletakkan ulama dalam konteks solusi atas prilaku nusyûz istri. Posisinya pun terakhir setelah dua tahapan sebelumnya sebagaimana diposisikan seperti itu oleh al-Qur`ân . Adapun tiga tahapan-tahapan tersebut adalah;

Pertama, menasihati isteri dengan baik-baik, dengan kata-kata yang bijaksana, kata-kata yang menyentuh hatinya sehingga dia bisa segera kembali ke jalan yang lurus. Sama sekali tidak diperkenankan mencela istri dengan kata-kata kasar. Rasulullah SAW. melarang hal itu. Kata-kata kasar lebih menyakitkan dari pada tusukan pedang. Tehnik menyampaikannya diserahkan kepada masing-masing orang. Di sinilah dituntutnya kualitas kepemimpinan seorang suami dalam memberikan pengarahan lisan kepada istrinya.

Apabila cara tersebut tidak merubah apa-apa, al-Qur`ân memberikan jalan kedua, yaitu memisahkan tempat tidurnya dengan isteri. Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fî Zhilâli al-Qur`ân menganggap cara kedua ini bertujuan untuk mereduksi rasa sombong si istri yang merasa keindahan fisiknya merupakan senjata untuk melemahkan ketegaran suami. Dengan hilangnya kesombongan tersebut, maka si istri cenderung surut dan lunak hingga bisa kembali ta’at dalam kebaikan. Cara ini juga bisa sebagai barometer tingkat kecintaan istri kepada suaminya. Seorang istri yang benar-benar mencintai suaminya akan sangat terasa mendapatkan teguran. Dan kembali menjalankan bahtera rumah tangga dengan suaminya secara harmonis. Akan tetapi jika tidak berpengaruh, maka kebutuhan dan rasa cintanya kepada suami berarti telah berkurang.

Selanjunya jika sang isteri tetap tidak berubah. Nuraninya telah tertutupi oleh hawa nafsunya. Dan tetap berada dalam ke-nusyûzan-nya. Ia tidak mau juga berubah setelah diingatkan dengan dua cara tersebut barulah menggunakan cara ketiga, yaitu memukul.

Kritik terhadap doktrin ini berawal ketika faktanya telah memberikan peluang luas kepada para suami untuk memukul istri, walaupun para ulama telah memberikan batasan dan tujuan dalam memukul tersebut. Dalam prakteknya para suami telah mensalahartikan bahkan mensalahgunakannya secara berkebihan, dan mengarah kepada tindakan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Sebagian pelakunyapun berdalih dengan alasan tersebut agar tidak terjerat pada kasus penganiayaan, sekalipun sudah melampaui batas dan telah mengarah pada tindakan pengniayaan. Dan pada akhirnya melahirkan budaya kekerasan yang dimotivasi oleh doktrin agama.

Budaya kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan sebagai legitimatornya merupakan bahaya laten bagi keutuhan dan keharmonisan rumah tangga.
Akan tetapi meniadakan kultur ini dari doktrin agama bukanlah pekerjaan yang mudah, karena pelakunya merasa tindakanya telah ditopang kuat oleh teks-teks suci.

Seringkalai pemeluk agama lebih melihat kekerasan agama dengan paradigma good against evil atau meminjam istilah Mark Juergensmeyer sebagai cosmic war dimana penggunaan kekerasan adalah benar dengan dalih melawan kemungkaran dan kesesatan, bahkan hal ini juga sebagai bentuk ibadah. Celakanya, fenomena ini selalu ada hampir di setiap agama, setidaknya dalam rekaman sejarahnya.

Pemahaman normatif terhadap teks inilah yang sangat sulit diatasi. Para pemikir yang lebih moderat berupaya menawarkan enlightening melalui reinterpretasi terhadap teks dan kontekstualisasinya, namun mereka justru dianggap penyesat, hasil ijtihad mereka juga dianggap bid’ah dan sarat agenda ghozwul fikr. Meskipun demikian upaya pencerahan tetap harus terus digiatkan, mengingat interpretasi terhadap teks suci adalah motivator paling kuat yang menjadi pemicu kekerasan agama. Violence in the name of God tidaklah beda dengan kekerasan lainnya, yang berbeda hanya motivasinya, namun secara praksis membuahkan implikasi yang sama yaitu merendahkan kehidupan. Seolah nyawa dan kehormatan seseorang menjadi begitu murah ketika berhadapan dengan ujung pedang agama. Mencegah penggunaan agama sebagai weapon inilah yang harus diupayakan dalam membangun keharmonisan antar sesama manusia, khususnya dalam mendayung bahtera rumah tangga. Karena dengan demikian keselamatan seseorang dalam berumah tangga dapat lebih terjamin.

2. Memukul Istri bukanlah Teladan dari Rasul

Pemahaman ini didasarkan pada fenomena praktek kenabian Muhammad SAW sebagai sari tauladan umat Islam. Secara faktual menunjukkan perbedaan yang sangat besar dengan faham yang pertama, yaitu Rasulullah tidak pernah sekalipun mencontohkan memukul salah satu dari para istrinya. Tidak satupun riwayat dari para sahabat tentang fi’liyah (perbuatan) Nabi yang menceritakan hal tersebut. Bahkan dalam hadits-haditsnya Rasulullah SAW malah cenderung mengecam pemukulan terhadap istri tersebut. Seperti sabdanya : “Bagaimana kamu pukul istrimu seperti memukul budak padahal setelah itu kamu tidur bersamanya, apakah kamu tidak malu?”. Dan dalam redaksi yang lain yaitu hadtis dari Abu Hurairah, Rasulullah juga bersabda; “Janganlah seseorang di antara kamu memukul istrinya bagaikan unta, yaitu dia memukulnya pada pagi hari, tetapi kemudian pada malam harinya mencampurinya.”

Terbentuknya lembaga pernikahan adalah karena keikhlasan masing-masing pihak untuk menjadikan pasangannya sebagai patner menggapai kebahagiaan hakiki, bukanlah kebahagiaan yang palsu. Pendekatan dan meyakinkan istri dengan cara memukul tidak akan melahirkan bahagia. Andaikan sang istri berubah menjadi baik setelah dipukul oleh suami, tentu hanya secara zahir, karena bagaimanapun juga aksi dan tindak pemukulan itu sangat melukai hatinya. Sehingga pilar sakinah dan mawaddah akan cacat yang akhirnya juga kehidupan rumah tangga akan hancur.

Dalam Islam tidak dikenal harga mati suatu ikatan pernikahan sebagaimana agama lain. Esensi dari penikahan sebagaimana dalam dijelaskan dalam al-Qur`ân adalah dibangun di atas rasa kasih dan sayang seperti termaktub dalam surat ar-Rum ayat 21; Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. Kedua belah pihak harus merasa tentram dengan keberadaan pasangannya. Artinya apabila rasa kasih sayang dan ketentraman itu sudah sirna, maka diobolehkan bagi mereka untuk melakukan perceraian.

Perceraian merupakan jalan terakhir ketika jalan-jalan sebelumnya sudah ditempuh, yaitu seperti jalan yang dijelaskan pada surat an-Nisâ ayat 31. Rasa tentram dan bahagia dalam pernikahan bukanlah hak suami saja, tetapi juga mutlak hak istri. Bahkan pernikahan dianggap tidak terjadi apabila mempelai wanita tidak menerima calon mempelai pria, karena persetujuan untuk menikah mutlak merupakan hak mempelai wanita.

Ketika menangani masalah disharmoni dengan para istrinya Rasulullah selalu melakukan pemberian nasehat dengan cara yang baik dan santun dan tidak pernah menggunakan kata-kata yang kasar. Dan ketika tidak tetap tidak bisa dinasehati langkah selanjutnya ia melakukan i’tizâl atau pisah rumah selama sebulan dari istrinya. Rasulullah tidak pernah melakukan pemukulan padahal kala itu surat an-Nisâ ayat 31 sudah diturunkan. Seandainya memukul istri waktu itu merupakan opsi penentu dan senjata pamungkas suami untuk menaklukkan istri, tentu Rasulullah orang pertama yang melakukannya sebagai contoh umat-umat sesudahnya.

Lalu bagaimana pemahaman lain tentang kata Idhribûhunna dalam ayat surat an-Nisâ ayat 31 tersebut?. Padahal ayat inilah satu-satunya yang menjadi rujukan pemahaman bolehnya memukul istri tersebut. Sedangkan makna memukul atau mencambuk yang digunakan dalam al-Qur`ân seringkali dengan redaksi yang lebih spesifik yaitu jild. Seperti hukuman bagi orang yang menuduh berzina tanpa adanya empat saksi dicambuk 80 kali.

Kata dharb dalam bahasa arab termasuk kata yang multimakna yang harus disesuaikan dengan ayat dan dalil naqli yang terkait secara utuh. Ada 18 bentuk pemakaian kata dharb dalam al-Qur`ân , semuanya bermakna i’tizal (mengasingkan/isolasi diri), al-mufâraqah (memisahkan), dan at-tark (meninggalkan). Contohnya dalam surat an-Nisâ ayat 101, “Wa izâ dharabtum fî al-ardhi falaisa ‘alaikum junâhun an-taqsurû min ash-shalâti (Dan apabila kamu bepergian (dharabtum) di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-qashar shalatmu). Kata dharabtum tidak mungkin diterjemahkan memukul di bumi.

Aplikasi makna seperti di ataslah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Yaitu mengasingkan dalam bentuk tidak tinggal serumah dengan istrinya yang nusyûz selama satu bulan, tanpa sekalipun melakukan pemukulan.

Tentunya dari dua pemahaman di atas terdapat kelemahan dan kelebihan masing-masing. Pemahaman kedua secara kontekstual cenderung bisa mengayom tuntutan era kebebasan yang berkembang saat ini. Seperti yang disuarakan oleh kaum feminis dan gerakan kebebasan wanita lainnya yang bertujuan mereduksi bahkan menghilangkan hegemoni kaum pria terhadap wanita, yang seringkali ditegakkan dengan cara-cara kekerasan, baik fisik, psikis, juga yang lainnya. Atau maraknya tuntutan dihilangkannya budaya kekerasan yang dilatarbelakangi oleh doktrin-doktrin agama. Seperti yang dilakukan oleh Parliament of the World’s Religions. Dalam konggresnya tahun 1993, para perwakilan agama-agama dunia ini memfatwakan pentingnya “transformasi kesadaran” (transformation of consciousness) untuk mewujudkan tatanan dunia baru (new global order) yang bersendikan kebebasan beragama. Forum tersebut merekomendasikan beberapa komitmen, yang salah satunya berupa komitmen untuk mewujudkan budaya anti kekerasan dan menghormati kehidupan (culture of non-violence and respect for life). Selain sorotan utamanya adalah aksi kekerasan dalam bentuk perang antar agama dan terorisme, KDRT juga menjadi perhatian serius, yaitu ketika itu dilakukan dilaterbelakangi oleh doktrin-doktrin agama. Pemahaman kedua ini juga cukup ampuh untuk meredam berkembangnya islamophobia di dunia, khususnya erofa barat dan Amerika yang mencap secara tidak obyektif Islam sebagai agama kekerasan.

Akan tetapi menafikan sama sekali makna memukul dari ayat tersebut berarti menafikan juga hadits Rasulullah dari ‘Ikrimah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “pukullah mereka (istri) apabila menentangmu dalam kebaikan, dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas“. Hadits ini merupakan tafsîr bi ar-riwâyah atas makna Idhribûhunna pada surat an-Nisâ ayat 31, yang menunjukkan secara eksplisit bolehnya memukul istri sebagai salah satu cara menyelesaikan masalah dengan catatan tidak meninggalkan bekas.

Penulis mengganggap peniadaan secara total metode pemukulan istri sebagai solusi rumah tangga dan perintah secara berlebihan dengan tanpa pertimbangan untuk memukul istri sebagai solusi adalah kurang tepat. Terkadang islamophobia yang berkembang di beberapa belahan dunia menjadikan umat Islam mengambil sikap ekstrim terhadap ajarannya sendiri dengan cara mengalih maknakan beberapa teks wahyu untuk memproduk hukum yang sesuai dengan tuntutan pihak-pihak tertentu.

Sayyid Quthb dalam kitab tafsirnya fî zhilâl al-Qur`ân menegaskan bahwa tindakan pemukulan sebagai pemecahan masalah pelik rumah tangga adalah dari Allah Sang Pencipta. Dia lebih mengerti tentang manusia yang diciptakan-Nya jauh melampaui manusia itu sendiri dalam memahami dirinya. Manusia hanya diminta memahami dengan baik maksud dan tujuan dari perintah Allah dengan seksama dan mengaplikasikannya dalam rangka mendatangkan rahmat bagi semua, tidak hanya pada suami, tetapi juga pada istri. Dan nilailah kualitas rahmat tersebut secara obyektif, bukan sebatas karena telah melaksanakan perintah Allah (dalam hal ini memukul istri) secara otomatis rahmat telah diperoleh. Perlu didengarkan langsung bagaimana hal itu apabila telah diterapkan kepada istri. Bahagiakah dia, tentramkah dia, selesaikah masalah yang dihadapinya, telah diperlakukan adilkah dia, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang dilontarkan untuk menilai kualitas rahmat tersebut dalam konteks yang terukur.

Secara eksplisit Sayyid Quthb meletakkan metode pemukulan istri ini dalam rangka mendidik yang disertai rasa kasih sayang, jauh dari maksud menghinakan dan merendahkan. Itupun terjadi dalam kondisi yang tidak biasa dan hanya bisa diselesaikan apabila menggunakan cara tersebut. Artinya ia memposisikan hukum memukul istri sebagai hukum yang pasif, yang digunakan apabila kondisi kedua pasangan memang membutuhkannya karena dianggap efektif untuk menyelesaikan masalah rumah tangga mereka. Sebagai contoh, terkadang terdapat wanita yang tidak mau menjadikan laki-laki yang dicintainya sebagai pemimpin dan direlakannya sebagai suaminya kecuali jika lelaki tersebut dapat menguasai dirinya secara fisik. Wanita model demikianlah yang memerlukan pemecahan tahap akhir ini, supaya ia kembali lurus dan menjalankan bahtera rumah tangganya dalam kedamaian dan ketentraman.

Iklan

Ramadhan dan Kemiskinan

Bulan ramadhan selalu datang tiap tahun itu sudah pasti, dan selama bulan tetap beredar maka syari’at berpuasa di bulan ini pun akan tetap wajib. Tradisi puasa ini bahkan telah berlangsung berabad-abad dan mentradisi bahkan sebelum kerasulan Muhammad SAW. Fazlur Rahman seorang tokoh neo moderenisme Islam menyebutnya sebagai sunnah atau tradisi yang hidup. Yaitu sebuah aktivitas ibadah (baik mahdlah yaitu aktivitas ritual formal maupun ghairu mahdlah yaitu mu’amalah) yang ada dan berlaku sebelum masa Rasulullah SAW., tetap bertahan dan dilanjutkan pada masa beliau dan sesudahnya. Bahkan telah mengalami penyempurnaan agar lebih mudah diaplikasikan oleh manusia sepanjang zaman sekaligus memperbesar pencapaian tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan sunnah atau tradisi yang hidup tersebut.

Walaupun penetapan tujuan hukum (maqhâsidh syar’iyah) dalam bidang ibadah selalu relatif setiap cabangnya, para ulama tetap meyakini bahwa keseluruhannya ditetapkan dalam rangka mewujudkan kemaslahatan sekaligus mencegah mafasadat (kerusakan) di muka bumi ini. Perwujudan dua hal tersebut tidak hanya dalam koridor hubungan baik manusia dengan Allah, tetapi juga antara sesama manusia maupun makhluk Allah lainnya. Termasuk dalam hal ini ibadah berpuasa, khususnya di bulan ramadhan.

Bulan puasa di bulan ramadhan yang dalam hadits dikenal sebagai ibadah ekslusif sebagai kesalehan ritual antara seorang hamba dengan Tuhannya, karena memang puasa itu untuk Tuhan (Ashisyâmu li wa ana ‘azzi bihi = puasa itu untukKu dan Akulah (Allah) yang membalasnya), akan tetapi kualitasnya tetap didasarkan pada kesalehan sosial atau hubungan baik hamba tersebut dengan hamba lainnya plus lingkungannya. Bahkan kualitas hubungan baik dengan sang Khaliq tersebut sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh kualitas hubungan seseorang dengan yang lain. Sebagaimana sabda Rasul :”Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan puasanya”. Perbuatan buruk seseorang terhadap orang lain secara tegas dinyatakan disini sebagai penyebab tertolaknya puasa kita oleh Allah.

Oleh karena itu bulan ramadhan ini merupakan momentum strategis dan kondusif dalam meningkatkan harmonisasi aplikatif hubungan baik seorang hamba dengan Tuhannya dan juga dengan kepekaan sosialnya terhadap hamba yang lain. Hal itu diwujudkan dalam mentransformasikan kematangan jiwa dengan cara meningkatkan sensitivitas kebersamaan, empati atau keprihatinan atas kondisi yang menimpa orang lain yang kurang beruntung, khususnya dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Meningkatnya empati seseorang ketika berpuasa disebabkan juga dia secara langsung mengalami betapa susah dan payahnya orang-orang miskin ketika hidup mereka serba kekurangan. Itulah perbedaan ketika perintah yang sama dilakukan di luar ramadhan.

Kemiskinan sudah menjadi bagian yang akut di negara kita Indonesia ini. Dari tahun ke tahun, angka kemiskinan di Indonesia meningkat. Di Surabaya saja misalnya berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko), angka kemiskinan dari tahun 2005-2007 terus mengalami kenaikkan. Mulai 111.233 KK (atau 377.832 jiwa) pada tahun 2005, 113.129 KK (atau 379.269 Jiwa) pada tahun 2006, dan 126.724 KK (431.331 jiwa) pada tahun 2007 Sedangkan dilihat dari anggaran yang dikucurkan setiap tahun juga mengalami kenaikan, pada tahun 2005 anggaran untuk pengentasan kemiskinan mencapai Rp 150 milyar, tahun 2006 Rp 188 milyar, dan tahun 2007 Rp 229 milyar. Sungguh merupakan kondisi yang memprihatinkan.

Pemerintah bisa saja berdarlih bahwa berdasarkan data statistik, jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) pada bulan Maret 2008 sebesar 34,96 juta orang atau 15,42 persen saja dari total penduduk di Indonesia. Tetapi faktanya kemiskinan ini bahkan pada tingkat yang mengkhawatirkan, karena berada pada level kualitas terendah. Sering kali standar miskin oleh pemerintah hanya bagi mereka yang tidak memiliki lapangan pekerjaan saja, padahal miskin di Indonesia sudah pada kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan pokok dan mendasar manusia seperti makan. Di Surabaya saja sebagai salah satu kota metropolitan pasien gizi buruk yang dirawat di rumah sakit milik Pemkot, RSUD dr Soewandhie, per tahun 2006 tercatat 88 penderita, tahun 2007 menjadi 135 penderita (130%) dan baru memasuki 2008, jumlah penderita sudah mencapai 16 orang. Kita bisa bayangkan bagaimana dengan kota-kota lain di Indonesia yang kualitas daerahnya jauh dari Surabaya, Papua dan Aceh misalnya.

Sedemikian besarnya derita kemiskinan yang dirasakan, banyak sekali masyarakat kita yang terkena tekanan kejiwaan. Sering ditemukan kasus pembunuhan, bunuh diri, bahkan ada yang tega membunuh buah hati mereka sendiri karena himpitan ekonomi. Benarlah sabda Rasulullah : “Hampir-hampir kemiskinan itu menjadikan seseoran kufur”. Para pelaku inipun juga memahami bahwa perbuatan mereka dilarang agama, akan tetapi deraan derita yang mereka rasakan terlalu besar, dan seakan-akan tidak berujung. Saifullah Yusuf pernah mengatakan; meski di Indonesia ada 650.000 lebih lembaga keagamaan lokal yang selama ini mendampingi masyarakat dalam bidang rohani, tetapi jika hanya mengkhutbahkan daftar keinginan normatif tentang “pahala”, “dosa”, “surga”, dan “neraka”, tidak akan mampu menghadang masalah kemanusiaan, terlebih kemiskinan.

Karenanya setelah secara langsung umat Islam merasakan payahnya derita orang-orang miskin dengan cara berpuasa, perlu dilanjutkan dengan aksi-aksi kongkrit mengentaskan kemiskinan ini, minimal mampu mengurangi tingkat derita yang dirasakan. Salah satunya dengan cara berbagi rasa dan rezeki dengan mereka. Salah satu amalan utama dan paling dicintai Rasulullah SAW. di bulan ramadhan adalah dengan mensedeqahkan sebagian rezeki yang dimiliki. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, bahkan diibaratkan lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus. Juga diriwayatkan dari Aisyah ra. Bahwa Rasulullah SAW. jika masuk bulan ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta. Demikian hal ini menjadi akhlak para sahabat, Bani ‘Adi misalnya tidak akan berbuka kecuali memanggil orang-orang di jalan dan anak-anak yatim agar ikut berbuka dengan mereka.

Di akhir ramadhan umat Islam diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah. Tujuannya adalah berbagi kebahagiaan kepada orang-orang miskin di tengah-tengah himpitan masalah kehidupan yang mereka jalani. Tentu momentum ini tidak saja hanya dilakukan di bulan ramadhan, karena seharusnya menjadi akhlak yang terus berkelindan di tengah-tengah kehidupan umat Islam. Dan hal itulah yang menjadi tolak ukur keberhasilan ramadhan yang dijalani seorang muslim. Itulah mengapa bagi mereka yang berhasil disebutkan kembali fitrah. Fitrah tidak hanya berarti suci dari dosa yang selama ini difahami kebanyakan orang. Karena suci dalam bahasa arab berarti quddûs. Sedangkan fitrah memiliki makna kembali kepada bentuk semual. Itulah fitrah Allah yang ditanamkan kepada manusia. Yaitu Devine characters atau karakter Ketuhanan seperti rahmân dan rahîm atau rasa kasih dan sayang kepada sesama makhluk dan razzâq atau mudah berbagi kepada orang lain. Jika minimal dua karakter itu saja kembali tumbuh bahkan mendominasi dalam diri seorang muslim setelah berpuasa, maka dialah orang yang menang dan kembali fitrah setelah bulan ramadhan.

Wallahu a’lam bi Ash-shawab

Perdagangan dan Asuransi

Pengantar

Pada prinsifnya Islam mengakui semua kegiatan ekonomi manusia yang halal -kegiatan yang sesuai dengan jiwa Islam. Perniagaan, mitra usaha perdagangan, koperasi, perusahaan, saham bersama, adalah kegiatan dan operasi ekonomi yang halal (Q.S. Al-Baqarah 2:275). Tapi Islam mengatur kegiatan niaga yang dimaksudkan untuk memastikan bahwa semua hal ini akan dilaksanakan dengan jujur tulus dan bermanfaat. Nabi berkata: “Adalah bersama nabi-nabi saudagar yang tulus dan jujur, demikian pula orang yang setia dan syahid.” (HR. Tirmidzi).

Demikian pula halnya dengan praktek asuransi, selama hal itu sesuai dengan  konsep (jiwa) Islam maka tentunya praktek tersebut menjadi boleh, bahkan dianjurkan. Bukankah Rasulullah saw. Pernah bersabda “yang terbaik di antara kamu adalah yang memperlakukan keluarganya dengan sebaik-baiknya”. Mengenai bagaimana konsep Islam tentang perdagangan dan asuransi ini akan penulis bahas dengan singkat dan sederhana dalam resume kali ini.

Perdagangan

Prinsif Dasar

Prinsif dasar yang telah ditetapkan Islam mengenai perdagangan dan niaga adalah tolak ukur dari kejujuran, kepercayaan, dan ketulusan. Dewasa ini banyak ketidak sempurnaan pasar, yang seharusnya dapat dilenyapkan bila prinsip ini diterima oleh masyarakat bisnis dari bangsa-bangsa berada di dunia. Prinsip perdagangan dan niaga ini telah ada dalam al-Qur`an dan Sunnah, seperti mengenai dilarangnya bersumpah palsu demi mengelabui konsumen dan memberikan takaran yang tidak benar, serta perlunya menciptakan tikad baik dalam setiap transaksi bisnis.

Perdagangan dan perniagaan dalam Islam secara pokok berbeda dengan pengertian modern tentang perdagangan dan perniagaan. Perdagangan dan perniagaan dalam Islam dihubungkan dengan nilai-nilai moral, sedangkan perdagangan dan perniagaan modern tidak demikian. Karena itu, semua transaksi bisnis yang bertentangan dengan kebajikan tidaklah bersifat Islami. Dan negara Islam punya hak sepenuhnya untuk mengekang setiap transaksi atau praktek apa saja yang berusaha menarik keuntungan dari kebutuhan atau penderitaan rakyat miskin.

Berikut ini akan kita bahas beberapa aspek perdagangan baik yang sesuai dengan jiwa Islam ataupun tidak.

A. Perdagangan Barter

Perdagangan ini pernah merupakan praktek sehari-hari yang berlaku. Walaupun volumenya sekarang sudah banyak berkurang tetapi arti penting perdagangan ini sampai sekarangapun tidaklah dianggap kecil. Islam juga telah mengakui perdagangan barter seperti dinyatakan dalam al-Qur`an dan Sunnah. Islam menekankan pada para pedagang agar barang atau benda yang cacat dan tidak berharga tidak diberikan sebagai pengganti barang dan benda yang baik. Dan juga barang dan komoditi untuk dijual haruslah berlaku pada pasar terbuka, dan pembeli serta agennya harus mengenal keadaan pasar secara besar-besaran. Serta seharusnyalah penjual tidak diperkenankan untuk menarik keuntungan dari ketidaktahuan pembeli akan keadaan pasar dan harga yang berlaku. Demikian pula, Islam sangat menentang berdagang berhala dan minum/makan haram, seperti : anggur, daging babi dan hewan yang mati tanpa disembelih. Semua hal ini jelas sekali ditetapkan Nabi.

B. Usaha Monopoli

Dalam perekonomian Islam yang terpenting ialah keinginan untuk mencapai keuntungan sosial yang sebanyak-banyaknya. Karena itu tiap kegiatan ekonomi yang mungkin merintangi tercapainya tujuan ini tidak dapat dinyatakan bersifat Islami. Dinilai dari norma kebajikan dan pemeliharaan untuk golongan miskin tidak mungkin kita menganjurkan usaha monopoli dalam Islam. Karena pada umumnya si pelaku monopoli menetapkan harga yang lebih tinggi bagi hasil produksinya, maka sosial eksploitasi banyak sekali dihubungkan dengan gagasan monopoli.

Para konsumen, pekerja miskin, dan masyarakat secara keseluruhan pun menjadi korban dari suatu tatanan ekonomi yang didominasi monopoli seperti itu -suatu tatanan yang telah memperlihatkan tiadanya harmoni antara kepentingan pribadi dan sosial, antara milik pribadi dan sosial. Karena itu, suatu negara Islam seharusnya mengutuk jenis tatanan ekonomi seperti ini dan harus dapat mengendalikan monopoli, baik dengan membuat undang-undang atau dengan perencanaan ekonomi secara menyeluruh. Perlu dicatat disini bahwa dalam beberapa kegiatan (yaitu perusahaan-perusahaan pelayanan masyarakat) mungkin monopoli tidak bertentangan dengan jiwa Islam, karena persaingan dapat menyebabkan terjadinya pemborosan sumber daya.

C.  Usaha Spekulatif

Sebagaimana halnya monopoli, Islam juga melarang usaha spekulatif. Yaitu bentuk usaha yang pada hakekatnnya merupakan gejala untuk membeli sesuatu dengan harga murah pasa satu waktu dan menjual barang yang sama dengan harga yang mahal pada waktu lain. Sejauh spekulasi memberikan jasa sosial dengan membantu produksi dan mengawasi fluktuasi harga yang mendadak, maka hal itu sesuai dengan jiwa Islam. Namun bila diamati secara cermat, terungkaplah kenyataan bahwa para spekulan itu pertama-tama tertarik pada keuntungan pribadi tanpa memperdulikan masyarakat banyak. Karena spekulasi sempurna cenderung menghancurkan diri sendiri, maka kebanyakan spekulan, dengan cara yang tidak jujur berusaha menciptakan kelangkaan barang dan komoditi secara dibuat-buat, dengan demikian terciptalah suatu tekanan inflasi pada ekonomi.  Dari segi kebajikan, Islam mengutuk praktek spekulasi seperti ini.

Prof. Lerner telah mengemukakan bahwa kejahatan spekulasi yang agresif, paling baik bila dicegah dengan apa yang disebutnya bisnis spekulatif, yang dikendalikan oleh “kontra-spekulasi”. Pemerintah hendaknya membentuk suatu badan yang membuat perkiraan harga yang tepat, dan menggunakan sumber dayanya untuk membawa harga yang sesungguhnya ke tingkat ini. Bila diperlukan, negara Islam harus mengembangkan sistem demikian, sehingga rakyat miskin, bahkan seluruh masyarakat dapat diselamatkan dari eksploitasi para spekulan yang terkutuk. Sesungguhnya, prinsip perekonomian Islam merupakan perpaduan harmonis antara nilai moral dan material.

D.  Perdagangan Internasional dan Banting Harga

Secara historis Islam menganjurkan perdagangan internasional. Bukan hanya untuk kerja sama ekonomi, tapi juga untuk membentuk persaudaraan sejagat raya dengan saling bertukar ide dan pengetahuan. Oleh karena itu pasti timbul tingkat teknik yang berbeda di antara daerah perdagangan Islam yang secara efektif melakukan transaksi niaga dan perdagangan. Tingkat dan teknik ini harus berubah dengan berubahnya keadaan waktu. Para ahli ekonomi klasik memilih suatu kebijakan perdagangan bebas dan mereka menentang kebijakan proteksi karena menurutnya hal ini merintangi alokasi sumber daya yang paling efisien di seluruh dunia. A. Manan dapat menerima kebijakan perdagangan bebeas ini dan yakin bahwa tiap negeri akan menghasilkan barang yang diproduksi berdasarkan keuntungan alami dan keuntungan yang diperoleh, kemudian mereka menghasilkan barang ini lebih banyak daripada pertukaran surplus barang yang kurang cocok dihasilkan dengan negeri lain atau barang yag tidak dapat diproduksinya sama sekali. Dengan kata lain, Islam percaya akan doktrin abadi biaya komparatif -yang menjadi inti dasar perdagangan internasional.

Banting Harga

Bahasan tentang perdagangan internasional ini tidak akan lengkap bila tidak menyinggung masalah dumping (banting harga) dalam bidang perdagangan. Tujuan dumping biasanya adalah :

a. Untuk menghabiskan persediaan yang berlebihan karena kekeliruan menilai permintaan.

b.      Mengembangkan hubungan perdagangan baru dengan menetapkan harga yang rendah

c. Mengeyahkan pesaing pasar asing, produsen asing, atau pribumi, dan

d.      Memungut keuntungan sebesar-besarnya dalam perekonomian.

Apapun yang mungkin menjadi pertimbangan  dumping akhirnnya bertujuan untuk mencapai tatanan ekonomi yang didominasi monopoli dengan menghalau produsen pribumi maupun asing dari bidang nasional maupun internasional, karena itu mengeksploitasi massa rakyat luas. Semua hal ini bertentangan dengan kebajikan dan mereka yang turut dalam praktek demikian berusaha mengambil keuntungan dari kebutuhan dan kemelaratan sesama manusia karena itu dumping bertentangan dengan jiwa Islam.

Asuransi

Dasar Berasuransi

Firman Allah swt. dalam kitab suci al-Qur`an :

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya”. (Q.S. Hud, 11:6)

“…dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan yang lain? …” (Q.S. An-Naml, 27:64)

Maksud dari ayat-ayat ini tidak berarti bahwa Allah menyediakan makanan dan pakaian kepada kita tanpa usaha.Sebenarnya, semua ayat itu membicarakan tentang ekonomi di masa depan yang penuh kedamaian, yang selalu dibayangkan Islam. Dan seperti yang dinyatakan dalam Islam bahwa manusia sebagai Khalifah Allah di Buni, hanya dapat mempertahankan gelarnya yang Agung bila melaksanakan Perintahnya tersebut dengan penafsiran yang tepat. Allah menghendaki tiadanya orang yang kehilangan mata pencahariannya yang layak, dan ia harus kebal terhadap setiap gangguan apa pun. Olah karena itu adalah kewajiban tertinggi dari suatu negara Islam untuk menjamin hal ini. Dan asuransi membantu tercapainya tujuan ini.

Ada sekelompok orang yang tidak dapat membedakan antara asuransi dengna perjudian. Mereka menyamakan asuransi dengan spekulasi. Padahal dengan asuransi orang yang menjadi tanggungan dari seorang yang meninggal dunia terlebih dapat menerima keuntungan lumayan untuk sejumlah uang yang telah dibayar almarhum sebagai premi. Tampaknnya hal ini seperti sejenis perjudian. Tapi perbedaan antara asuransi dan perjudian adalah fundamental, karena dasar asuransi adalah kerja sama yang diakui dalam Islam. Asuransi mengajarkan kepada kita perlunya saling membutuhkan dalam masyarakat. Hakikat dari semangat ini sangat membantu tercapainya tujuan persaudaraan di seluruh dunia.

Antara Asuransi Modern dan Asuransi Islam

Asuransi Islam berbeda dari asuransi modern secara mendasar, baik dari sudut pandang bentuk maupun sifat. Sejarah asuransi masih belum tercatat, hanya tonggak sejarah evolusinya yang diketahui. Dalam evolusi umum, dapat dibedakan tiga jenis asuransi, sedikit banyaknya mandiri, tidak secara berturut-turut, tetapi sering dan terus bergantian jenisnya. Ketiga jenis ini dapat disebut koperatif, kapitalis, dan pemerintah.

Organisasi asuransi atas dasar koperatif dimotivasi oleh sebab yang sama pada hakekatnnya mengikuti perkembangan yang sama baik di zaman modern, maupun di zaman kuno. Suatu negara Islam seharusnnya menganjurkan pembentukan suatu industri asuransi yang dimotivasi oleh jiwa koperatif karena gagasan koperasi diakui dalam Islam. Jenis asuransi kapitalis, adlah usaha asuransi yang sesungguhnya lahir dari asuransi laut yang berasal dari romawi. Asuransi ini dibentuk untuk mendapatkan laba dan didasarkan atas perhitungan niaga. Kehidupan ekonomi yang sangat berbeda di akhir abad kesembilan belas ini membawa banyak keuntungan budaya disertai bahaya dan persyaratan baru. Hampir semua negara melihat betapa pentingnnya pertumbuhan berbagai industri asuransi.

Sesungguhnya, dengan bertambah pentingnnya arti industri asuransi di mana-mana mengakibatkan perundang-undangan pengawasan negara yan glebih efektif mengenai kelakuan dan bentuk kebijakannya. Sejumlah negara seperti; India, telah menasionalisasi industri auransi. Bagi suatu negara Islam, hal yang penting bukanlah apakah industri harus dinasionalisasi, tetapi pertimbangan utamanya adalah apakah diorganisasi dengan suatu cara yang dapat meningkatkan kesejahteraan umat manusia, dengan memperhatikan perintah yang terdapat dalam al-Qur`an dan as-Sunnah.

Demikianlah di suatu negara islam, asuransi harus dikembangkan dan diperluas pada skala nasional. Asuransi kematian dapat diserahkan pada perusahaan swasta. Asuransi bagi orang berusia lanjut, pengangguran, sakit dan luka disokong oleh pemerintahpada skala nasional, sehingga seluruh bangsa dapat bertanggung jawab secara bersama-sama untuk menyediakan dana bagi mereka yang sakit, tua, tidak terurus, atau pengangguran. Disamping premi, suatu pemerintah Islam juga mempunyai zakat yang dapat digunakan untuk kesejahteraan sosial. Hal ini sangat mirip dengan rencana Natioanal Insurance di Inggris yang meliputi semua resiko ekonomik dari semua orang, mulai dari buaian samapai ke liang kubur. Satu-satunya perbedaan adalah pasiva tidak akan digunakan dalam usaha berbunga.

Kesimpulan dari bahasan diatas, perbedaan antara industri asuransi modern dan industri asuran Islami tidak hanya terletak dalam bentuknnya, tetapi juga dalam sifat penanganan usahanya. Dewasa ini kecenderungan untuk membentuk asosiasi yang mirip kartel dari usaha dalam bidang asuransi dan reasuransi dalah pengingkaran terhadap nilai-nilai hidup Islami. Kita mengetahui bahwa industri asuransi modern menamkan dananya dalam usaha berbunga. Tapi perusahaan asuransi Islam malah akan menyediakan pinjaman modal, baik secara langsung atas dasar mudarabah atau dengan berpartisipasi dengan bank Islam dan lembaga kredit khusus lainnya. Kemungkinan untuk membuka departemen asuransi dalam bank Islam juga patut dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh.

Kebijakan Fiskal dan Anggaran Belanja dalam Islam

Kebijakan  fiskal dan anggaran belanja dalam Islam memliki prinsif bertujuan untuk mengembangkan suatu masyarakat yang didasarkan atas distrubusi kekayaan berimbang dengan menempatkan nilai-nilai material dan spiritual pada tingkat yang sama. Dari semua kitab agama masa dahulu, Al-Qur`an-lah satu-satunya kitab yang meletakkan perintah yang tepat tentang kebijakan negara mengenai pengeluaran pendapatan. Kegiatan-kegiatan yang menambah pengeluaran dan yang menarik penghasilan negara harus digunakan untuk mencapai tujuan ekonomi dan sosial tertentu dalam kerangka umum Hukum Islam seperti ditetapkan dalam al-Qur`an dan Sunnah.

Negara Islam bukan suatu teokrasi dalam arti kependetaan, tapi adalah suatu negara ideologi yang berperan sebagai mekanisme untuk melaksanakan hukum-hukum Al-Qur`an dan Sunnah. Karena itu, kebijakan fiskal dalam suatu negara Islam harus sepenuhnnya sesuai dengan prinsip hukum dan nilai-nilai Islam tersebut (Mannan, 1997:230).

Sejalan dengan adanya suatu perekonomian. Untuk lebih berkembangnya suatu perekonomian perlu adanya suatu kebijakan-kebijakan yang diadakan oleh pemerintah, baik itu tindakan maupun strategi supaya ekonomi yang sedang berjalan diupayakan terus maju, tanpa adanya suatu kelemahan ekonomi yang mengakibatkan terjadinya inflasi, pengangguran dan lain sebagainya. Tetapi apabila pendapatan pemerintah berkurang maka pemerintah juga harus mengurangi pengeluaran. Singkatnya orang berpandangan bahwa pemerintah haruslah menjalankan kebijakan fiskal seimbang atau anggaran belanja seimbang, yaitu pengeluaran haruslah sesuai atau sama dengan pendapatanya.

Yang dinamkan kebijakan fiskal yaitu langkah-langkah pemerintah untuk membuat perubahan. Perubahan dalam sistem pajak atau perbelanjaannya dengan maksud untuk mangatasi masalah-masalah ekonomi yang dihadapi (Sukirno, 1995:170). Oleh sebab itu pemerintah harus berkeyakinan untuk melakukan pengeluaran sesuai dengan pendapatan yang diperolehnya dari berbagai jenis pajak dan pendapatan lainya.

Beberapa Kebijakan Fiskal

A.  Kebijakan Pengeluaran

Kegiatan yang menambah pengeluaran negara mempunyai dampak tertentu yang pada kehidupan sosio-ekonomi masyarakat. Berbeda dengan kitab-kitab agama lain, kitab suci al-Qur`an telah menetapkan perintah-perintahyang sangat tepat mengenai kebijakan negara tentang pengeluaran pendapatan negara. Al-Qur`an telah mentapkan suatu kebijakan pengeluaran yang luas untuk distribusi kekayaan berimbang di antara berbagai lapisan masyarakat.

Dalam al-Qur`an dikatakan : “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah : “Yang lebih dari keperluan” (Q.S. al-Baqarah 219). Ini bukanlah berarti mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak menentu. Islam bukan hanya mencegah tapi mengutuk pemborosan. Penimbunan juga dikutuk karena dengan demikian kekayaan tak dapat beredar dan mafaat penggunaannya tidak dapat dinikmati si pemakai ataupun masyarakat. Sesungguhnya, seluruh filsafat ekonomi tentang kegiatan tambahan pengeluaran negara adalah membawa surplus kekayaan ke dalam peredaran, dan untuk menjamin distribusi kekayaan berimbang di kalangan semua masyarakat. Hal ini terutama di kalangan fakir miskin, sesuai dengan hak-hak alami serta harta benda pribadi. Tentu saja, sistem perpajakan dalam negara Islam harus dikendalikan oleh prinsip kebajikan dan pemeliharaan untuk si miskin (Mannan, 1997:232).

B.  Kebijakan Pemasukan

Tidak diragukan bahwa terdapat elasitisitas yang besar dalam sistem keuangan negara dan perpajakan Islam. Hal ini dapat disebabkan, karena al-Qur`an tidak menyebutkan tentang biaya yang dikenakan pada berbagai milik kaum muslimin dan juga karena sejarah dini administrasi keuangan Islam itu sendiri. Sejauh mengenai aspek keuangan administrasi, dapat kita lihat suatu evolusi secara berangsur-angsur, mulai dengan bujukan dan anjuran sampai pada memberlakukan kewajiban dan tugas yang dilaksanakan dengan segala kekuasaan yang dapat dimiliki masyarakat.

Sistem perpajakan Islam harus menjamin bahwa hanya golongan kaya dan golongan makmur yang mempunyai kelbihanlah yang memikul beban utama perpajakan. Barangkali karena hal ini, maka pendapatan  tidak dipajak pada sumbernya, atau bila pendapatan ini bertambah, tetapi pada tabungan dan penimbunan yang dipajak (1997: 233).

Kebijakan Anggaran Belanja

Di masa Nabi Rasulullah Saw. kebijakan anggaran sangat sederhana dan tidak serumit sistem anggaran modern. Hal ini sebagian karena telah berubahnya keadaan sosio-ekonomik secara fundamental, dan sebagian lagi karena negara Islam yang didirikan dan dilaksanakan oleh Rasulullah Saw.(1997:234).

Negara yang menganut demokrasi, biasanya membuat anggaran belanja negara secara umum, tiap tahun, fakta anggaran belanja negara yang menganut demokrasi tersebut adalah, bahwa anggaran belanjanya dinyatakan melalui peraturan yang disebut dengan peraturan anggaran belanja negara sekian tahunan. Kemudian ditetapkan sebagai peraturan setelah dibahas dengan parlemen (Taqyuddin : 268).

Anggaran modern merupakan suatu campuran rumit antara rencana dan proyek yang harus dilaksanakan dimasa depan, maupun melenyapkan kesulitan dan rintangan yang terdapat pada jalan pertumbuhan ekonomi negara. Negara Islam modern harus menerima konsep anggaran modern dengan perbedaan pokok dalam hal penanganan defisit anggaran. Negara Islam dewasa ini harus mulai dengan pengeluaran yang mutlak diperlukan dan mencari jalan dengan cara-cara untuk mencapainya, baik dengan rasionalisasi struktur pajak atau dengan mengambil kredit dari sistem perbankan atau dari luar negeri (Mannan : 235).

Oleh karena itu, di dalam Islam tidak mengenal pembuatan anggaran belanja negara tahunan, sebagaamana yang terdapat dalam demokrasi, baik terkait dengan bab-babnya, pasal-pasalnya, istilah dan pasal tersebut. Dari sinilah, maka anggaran belanja negara Islam tidak dibuat dalam bentuk tahunan, meskipun negara Islam mempunyai anggaran belanja tetap yang bab-babnya telah ditetapkan oleh syara’ mengikuti pendapatan dan pengeluaranya (Taqyuddin : 269).

Telah kita lihat bahwa selama masa Islam dini, penerimaan zakat dan sedekah merupakan sumber pokok pendapatan. Jelaslah, dizaman modern, penerimaan ini tidak dapat memenuhi persyaratan anggaran yang berorientasikan pertumbuhan modern dalam suatu negara Islam. Diperlukan untuk mengenakan pajak baru, terutama pada orang yang lebih kaya demi kepentingan kemajuan dan keadilan sosial. As-Sunnah dengan jelas menyatakan tentang hal ini: “selalu ada yang harus dibayar selain zakat.” Maka Rasulullah Saw. berpesan dan memerintahkan pengeluaran untuk kebajikan masyarakat. Sabdanya : “kekayaan harus diambil dari si kaya dan dikembalikan kepada si miskin”. (HR. Bukhari) (Mannan : 238).

Setiap warga negara harus menyumbangkan keuangan negara sesuai dengan kemampuanya yaitu sesuai dengan pendapatnya. Menurut prinsip ekonomi, biaya pungutan pajak tidak boleh melebihi pendapatan dari pungutan pajak itu sendiri. Akan tetapi mengenai masalah zakat, pungutan zakat tidak memerlukan sistem organisasi yang lengkap yang membutuhkan biaya yang besar. Zakat merupakan bentuk ibadah seperti amalan shalat setiap hari atau berpuasa sehingga kebanyakan orang berlomba-lomba mau menunjukkan melaksanakan tanggung jawab ini secepat mungkin (Rahman, 1996: 335).

Terangkum dengan jelas bahwa sistem perekonomian yang mengenai anggaran belanja, menjadi suatu perbedaan yang mendasar mengenai sistem anggaran belanja Islam dengan modern. Islam menitik beratkan pada masalah pelayanan terhadap urusan ummat, yang telah diserahkan oleh syara’ dan ditetapkan sesuai dengan apa yang menjadi pandangan agama Islam. Berbada dengan anggaran belanja modern lebih menekankan pada suatu campuran rumit antara rencana dan proyek.

Kecendrungan Modern dalam Anggaran Belanja

Dalam usaha untuk menolong negara-negara yang berkembang dalam perluasan modal mereka, maka di tahun-tahun belakangan ini telah dikembangkan sejumlah metode baru pada anggaran. Beberapa negara menyiapkan anggaran tunai terkonsolidasi sebagai pelengkap bagi anggaran konvensional mereka yang memberikan informasi berguna tentang arus uang dan suatu dasar untuk perkiraan jangka pendek tentang akibat operasi fiskal pemerintah. Sejumlah negeri terutama negeri-negeri Skandinavia, telah menerima dua sistem anggaran-anggaran yang berjalan atau berlaku dan anggaran modal. Ini merupakan upaya untuk merukunkan konflik yang nyata antara suatu anggaran berimbang dan biaya pengeluaran modal yang besar dengan peminjaman.

Dua sistem anggaran yang terpenting adalah yang berdasarkan program dan yang berdasarkan prestasi. Karena sistem anggaran yang berdasarkan prestasi sangat rumit dan didasarkan atas sistem akutansi biaya yang sulit, maka suatu sistem anggaran berdasarkan program dan prestasi di negeri-negeri Islam pada umumnya hanya dapat dilaksanakan bila terdapat prasarana administratif yang kuat dengan staf akuntan terdidik, ahli ekonomi, perencana dan tenaga-tenaga ahlilainnya. Karena itu Angaran berdasarkan program dan prestai di negeri-negeri islam harus digunakan menurut tahap yang direncanakan dengan baik (Mannan : 240).

Jadi jelaslah bahwa suatu ahli akonomi Islam yang benar-benar memegang suatu perekonomian yang sesuai dengan syara’. Akan dapat menjadikan negara menjadi maju dengan sistem yang ditunjang oleh kejujuran yang dapat bermamfaat bagi masyarakat, terutama masyarakat menengah kebawah.

Kesimpulan

+           Kebijakan Fiskal, kitab suci  al-Qur`an barangkali adalah satu-satunya yang memuat firman tentang kebijakannegara mengenai pengeluaran pendapatan negara secara cermat. Penerimaan zakat yang di pungut dari kaum Muslimin dapat juga dipergunakan untuk kesejahteraan kalangan non-Muslim. Dan Sesungguhnya, bila kita memperhatikan jiwa administrasi keuangan Nabi saw. tidak ada suatu kesulitan pun dalam menyimpulkan bahwa hukum Islam mengenai keuangan negara sangat elastis sehingga dapat diperluas untuk memenuhi persyaratan zaman modern.

+           Kebijakan Anggaran Belanja, Dalam suatu negara Islam, yang menjadi dasar anggaran tidak lagi penerimaan yang akan menentukan jumlah yang tersedia bagi pengeluaran. Dalam negara islam pengeluaran yang sangat dibutuhkanlah yang akan menjadi dasar dari anggaran.

+           Kecenderungan Modern dalam Anggaran Belanja, Di tahun-tahun belakangan ini, sejumlah bentuk baru anggaran telah berkembang, yang terpenting ialah anggaran berdasarkan program dan anggaran berdasarkan prestasi. Di negeri-negeri Islam pada umumnya Anggaran belanja berdasarakan program dan berdasarakan prestasi hanya dapat dilaksanakan bila terdapat prasarana administratif yang kuat dengan staf akuntan terdidik, ahli ekonomi, perencana dan tenaga-tenaga ahlilainnya

Daftar Pustaka

An-Nabhani, Taqyiddin, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam, Surabaya, Risalah Gusti : 1996.

Chapra, M. Umer, Islam dan Tantangan Ekonomi, Islamisasi Ekonomi Kontemporer, Surabaya, Risalah Gusti : 1999.

Mannan, Abdul, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Yogyakarta, Dhana Bakti Wakaf: 1997.

Sukirno, Sadono, Makro Ekonomi, edisi kedua, Jakarta, Raja Grafindo Persada : 1995.

Rahman, Azalur, Doktrin Ekonomi Islam Jilid II, Yogyakarta, 1995

Filsafat dan Membentuk Pola Istinbath Hukum

Khazanah intelektual Islam dalam sejarahnya meliputi berbagai bidang keilmuan yang masing-masing menggunakan approach dan metodologi yang berbeda-beda. Diantaranya yaitu; Fikih, Teologi, dan Filsafat. Dalam disiplin fikih para fukaha sepakat untuk menggali hukum-hukum Islam dengan menggunakan metode khusus yang disebut ushul fiqh dan ‘ilm fiqh, sekaligus juga mengenal khaznah intelektual klasik Islam dalam disiplin ini. Dalam bidang teologi Islam, mengkaji bahasan tersebut haruslah terlebih dahulu mengenal tentang wilayah cakupan teologi Islam dan sejarah perkembangan aliran-aliran teologi ini. Sedangkan filsafat apabila khusus membahas aliran filsafat tertentu maka yang harus dipahami oleh seorang penulis adalah seperti pengantar filsafat, filsafat Ilmu dan corak pemikiran aliran filsafat itu.

Berbeda dengan bidang yang lain, filsafat hampir memasuki semua wilayah disiplin keilmuwan, baik itu dalam bidang agama maupun yang umum. Hal itu karena disiplin ini sifatnya mendasar dan sangat menunjang untuk pengkajian suatu bidang keilmuan dengan lebih mendalam. Dalam bidang agama filsafat telah mengambill tempat khusus dalam wilayah pemikiran Islam. Dalam sejarahnya disiplin ini selain mendapat antusias yang tinggi oleh para ulama muslim di satu sisi, tetapi juga di sisi lain mendapat tentangan dan tantangan, khususnya oleh para ulama muslim ortodok. Hal tersebut muncul karena adanya kekhawatiran mereka akan dampak filsafat yang membuat seseorang terjebak dalam berpikir bebas dalam bidang agama dan berdampak pada keraguan total terhadap sebagian atau keseluruhan bangunan ajaran Islam yang fundamental.

Terlepas dari pertentangan para ulama tersebut, penulis melihat bahwa biar bagaimanapun filsafat merupakan disiplin keilmuwan yang mempunyai peran besar dalam perkembangan khazanah intelektual Islam, termasuk di dalamnya bidang fikih dan teologi Islam. Ibnu Taimiyyah saja yang dikenal sebagai pemikir fanatik dan reaksioner dalam usahanya membongkar kepalsuan logika Aristoteles, mengatakan bahwa keharusan berpikir logis tidaklah dapat ditinggalkan (Madjid, 1994: 39). Dalam bidang fikih, peran filsafat dalam membentuk pola istinbath dan kajian hukum-hukum Islam tersebut dapat dirasakan apabila kita mempelajari dengan seksama kajian hukum seseorang yang pernah mengecap pendidikan filsafat. Tentu saja akan ada perbedaan dengan kajian yang dilakukan oleh seorang ulama yang hanya berlandaskan koridor ilmu fikih ­an sich. Contohnya hasil kajian fikih seorang failasuf ternama Ibnu Rusyd yang tertuang dalam buku monumentalnya Bidâyah al-Mujtahid. Nurcholish Madjid mengatakan bahwa diantara para failasuf, tidak ada yang menyamai Ibnu Rusyd dalam keahliannya di bidang fikih. Dan berkat latihan intelektual sebagai seorang failasuf, maka buku fikihnya Bidâyah al-Mujtahid diketahui sebagai karya dengan sistematika yang terbaik di bidang jurisprudensi Islam tersebut.

Etos Kerja Islam Dalam Persfektif Modern

Hal yang paling mendasar yang menjadikan sebuah bangsa maju atau tertinggal adalah besar atau tidaknya etos kerja yang dimiliki masyarakatnya. Di beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, etos kerja yang lemah seringkali menjadi permasalahan yang cukup serius dan memerlukan penyelesaian yang komprehensif dan gradual. Indonesia misalnya dengan penduduk terbesar nomor tiga dunia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam dikenal sebagai penduduk yang memiliki etos kerja paling lemah. Majalah Internasional Konservatif Reader Degest pernah menilai bahwa Indonesia akan sulit keluar dari krisis multidimensi, khususnya yang berhubungan dengan persaingannya di dunia global dikarenakan lemahnya etos kerja dan korupsi yang sudah sangat akut (Indonesian has lousy work ethic and serious corruption). Bahkan sebuah prediksi ilmiah pernah mengatakan bahwa jika Indonesia tidak segera menyelesaikan masalah etos kerja bangsanya, maka sekitar seperempat abad kemudian, di saat bangsa-bangsa di Asia tenggara telah menjadi negara maju -atau tinggal landas dalam istilah orde baru- maka Indonesia hanya akan menjadi halaman belakang (back yard) kawasan ini.

Pembahasan Etos kerja (work ethic) suatu masyarakat tidak bisa dilepaskan dari pemahaman dan pengamalan atas doktrin-doktrin keagamaan atau ideologi yang dianut. Agama atau ideologi merupakan pembentuk etika yang paling dasar yang dikembangkan sedemikian rupa sesuai dengan tuntutan aktual masyarakat. Sebut saja saat ini yang paling berpengaruh; etika Kristen, etika Islam dan etika Konfusianisme.

Pengamalan suatu masyarakat akan doktrin agamanya akan berpengaruh pada nilai kerja yang dimiliki. Baik buruknya etos kerja suatu masyarakat akan berdampak pada kredit atau diskredit terhadap agama yang dianut masyarakat tersebut. Misalnya agama kristen yang dicap sebagai agama modern karena dianut mayoritas negara-negara erofa yang saat ini menguasai peradaban dunia. Atau kongfusianisme yang secara aktual dianut dan doktrinnya benar-benar mempengaruhi penganutnya terbukti telah menjadikan negara-negara yang mayoritasnya pemeluk konghucu sebagai negara yang diperhitungkan di dunia internasional. Misalnya negara-negara yang tergabung dalam NICS (Newly Industrializing Countries) atau negara-negara Industri Baru; Hongkong, Taiwan, Singafura dan Korea Selatan. Negara-negara ini disebut juga The Litle Dragons atau naga-naga kecil, dan naga merupakan binatang mitologi dalam sistem kepercayaan kongfusianisme. Ideologi ini bagi negara-negara tersebut tidak saja menjadi agama tetapi sudah menjadi simbol masyarakat dan negara. Sebut saja Korea Selatan, pada saat Olympiade Seoul, nampak menampilkan simbol-simbol konghucu pada saat pembukaannya. Pujian pun mengalir deras kepada kongfusinisme sebagai ideologi yang mampu menopang dan mendorong suatu masyarakat menjadi maju.

Lalu bagaimana dengan Islam, realitas yang mencuat dipermukaan malah nampak sebaliknya. Agama ini dicap sebagai agama yang menjadikan masyarakat pemeluknya memiliki etos kerja dan sprit persaingan yang lemah. Diskredit atas agama ini semakin hari bukan semakin berkurang, bahkan bertambah dengan istilah-istilah yang baru, seperti agama primitif, teroris dan lain sebagainya. Beberapa masyarakat Indonesia bisa berdalih bahwa yang menjadi dasar dan filsafat negara bukanlah Islam, tetapi Pancasila, dengan ini mereka mengatakan segala sesuatu yang terjadi dengan negara dan bangsa ini tidak ada kaitannya dengan Islam. Pernyataan ini benar di satu sisi, bahwa Indonesia bukalnlah daulah Islamiyah, tetapi filsafat negara, apapun bentuk dan istilahnya, lebih banyak hanya sebagai simbol atau common platform untuk pemersatu kemajemukan masyarakatnya, sedangkan yang menjadi ruh atau spirit sesungguhnya dari setiap orang adalah ideologi yang benar-benar diyakini dan menjadi dasar hidupnya, dan itu adalah agama. The Founding Fathers Indonesia saja ketika merumuskan sila-sila dalam pancasila, telah menjadikan sila ketiga; Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yang paling mendasar dalam berbagai sistem ideologi yang ada di Indonesia. Umat Islam bahkan mengklaim bahwa sila tersebut hanya yang sesuai maknanya dalam dasar teologi Islam, esa yang berarti satu merujuk ke makna Tauhidullah. Belum lagi banyak dari nomenklatur bangsa ini yang mengunakan bahasa arab yang notabene merupakan bahasa umat Islam sedunia. Sebagai contoh Majelis Permusyawaratan rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Mahkamah, Hakim, Peradilan, Hukum, dan lain-lain. Bisa dikatakan, walaupun tidak secara resmi dan eksplisit diakui, banyak simbol-simbol negara yang merujuk kepada sistem kepercayaan ini (baca: Islam).

Tapi inilah umat Islam, Muhammad Abduh pernah mengatakan dengan tegas bahwa al-islâmu mahzûbun bil-muslimi, menunjuk bahwa kebenaran, kejayaan dan kebesaran Islam kurang bahkan tidak tampak lagi dalam percaturan masyarakat dunia karena perilaku umatnya sendiri. Dan inilah yang menjadi sebab utama keterbelakangan mereka. Kuntowijoyo melihat bahwa umat Islam lebih banyak mengamalkan ajaran agamanya hanya dalam tataran simbol-simbol. Bahwa Islam hanya dipahami sebagai kegiatan ritual sholat, puasa, haji, termasuk zakat yang memiliki dimensi profan pun tidak terlepas dipahami sebagai ritualitas dalam simbol-simbol keagamaan.

Umat Islam perlu mengalami metamorfosa pemikiran dan pemahaman keagamaannya kembali. Reaktualisasi pemikiran dan pengamalan agama bukanlah dipahami sebagai melakukan perubahan gradual atas teks dasar atau sumber agama (baca: al-qur’an dan al-hadits), sebagaimana dipahami secara salah oleh sebagian orang. Tetapi memahami berbagai perintah-perintah dan larangan dalam nash-nash tersebut secara tepat, yaitu mengarah pada substansi yang diinginkan dalam maqhasidh syar’iyyah atau disebut juga dengan hikmatut tasyri’. Hal ini berlaku baik dalam masalah ‘ubudiyah maupun mu’amalah. Perintah sholat misalnya selain sebagai upaya pendekatan diri kepada Sang Khalik, juga sebagai upaya perbaikan etika, moral, nilai dan spirit umat Islam terhadap diri dan lingkungannya. Allah berfirman dalam surat al-Ankabut ayat 45 :

“…dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar…”.

Bahkan Lukman mengikutkan perintah kebaikan dan mencegah kemungkaran secara langsung setelah perintah melaksanakan sholat. Sebagaimana dalam Surat Lukman ayat 17 :

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Atau juga sebagai spirit dalam rangka bermu’amalah mencari rezeki Allah di dunia, sebagaimana nampak dalam perintah bertebaran dimuka bumi (fantashirû fîl ardhi) setelah melaksanakan sholat jum’at, firmanNya :

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumu’ah : 10)

Contoh lain, mengapa umat Islam diperintahkan untuk berzakat, selain tujuannya untuk menyucikan harta, juga memiliki pengaruh dalam penguatan ekonomi umat. Demikian pula dengan puasa dan haji, selain memiliki dimensi transendental yang jelas sebagaimana layaknya dipahami dan memang merupakan spirit utamanya, juga memiliki dimensi profan yang saat ini belum memiliki pengaruh yang kuat, baik dalam pemahaman maupun dalam praktek umat.

Jika masalah ritual ibadah selalu memiliki dua aspek yang tidak terpisahkan, tentu demikian halnya dengan perintah-perintah yang berkaitan dengan mu’amalah duniawiyah. Berbagai aspek amalan dunia seperti belajar, bertani, berpolitik, berdagang, berkarya dan lain-lain, tidak saja merupakan tuntutan hidup manusia, tetapi merupakan aspek yang sangat penting dalam ajaran Islam sebagai manifestasi amanat ke-khalifahan manusia di bumi (khalifatullah fî al-ard). Maka dalam rangka meningkatkan kualitas kerja atau amal hamba-Nya ini, Allah tentunya telah menyiapkan teks-teks ajaran yang selain perlu dipahami secara aktual juga memerlukan pengamalan yang istiqomah (continue implementation).

Cendikiawan Muslim Nurcholis Majid dalam bukunya Islam Dogma dan Peradaban mencatat beberapa konsep ajaran Islam yang terkait erat dengan peningkatan kualitas etos kerja umat, antara lain :

1. Niat dan Tauhidullah

Dalam Islam kedudukan niat merupakan yang paling fundamental dalam setiap praktek ibadah baik mahdah maupun ghairu mahdah. Baik buruknya suatu pekerjaan tergantung pada niat pelakunya. Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya setiap amal itu dengan niatnya, dan setiap perkara tergantung pada apa yang ia niatkan”.

Inilah yang membedakan antara sistem Islam dengan yang lain. Termasuk dengan konfusianisme, faham ini secara nyata memang memberi pengaruh kuat kepada pemeluknya untuk melakukan kerja keras. Sebab secara umum ajaran yang ditekankan lebih mengarah kepada materialisme. Dimana kepemilikan seseorang akan materi akan sangat menentukan tingkatan kastanya baik waktu di dunia maupun ketika sesudah mati. Itulah karenanya dalam sistem ekonomi negara yang menganut paham kongfusianisme lebih mengarah kepada sistem yang menjunjung tinggi materi sebagai pusat perbaikan suatu bangsa.

Islam adalah agama yang mengajarkan tauhid pada setiap aspek kehidupan umatnya. Seoarang muslim yang beriman wajib meyakini dengan lisan dan qalbunya syahadat Lâ ilâha illallâh, lafadz ini berarti menafikan tuhan-tuhan lain selain Allah. Tuhan-tuhan itu bisa berarti benda yang dicenderungi maupun disembah (paganisme), ideologi seperti materialisme, hedonisme, atau sistem kepercayaan yang diikuti yang lebih diutamakan dari pada Allah. Maka ketika seseorang bekerja dengan didasarkan pada tauhid, hal itu menjadikanya merdeka untuk melakukan apa saja yang diyakini selama tidak bertentangan dengan kehendak Tuhannya (baca: Allah).

2. Ihsan dan Itqan

Untuk memperkuat dan memperjelas niat, umat Islam diperintahkan untuk mengucapkan nama Allah (bismillâh) setiap awal pekerjaannya. Secara filosofis ikrar kepada sesuatu berarti pengakuan atas apa yang dimiliki olehnya. Allah dalam pandangan umat Islam adalah Tuhan yang maha segala-galanya, tidak ada yang lebih maha dari pada Dia. Hal ini melahirkan kesadaran bahwa sesuatu yang didasarkan kepada derajat tertinggi akan memberi motivasi kuat untuk menyamakannya. Itulah Ihsan. Ihsan merupakan bentuk kerja yang didasarkan pada kualitas kerja terbaik. Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya Allah mewajibkan Ihsan atas segala sesuatu, maka jika kamu membunuh hendaklah membunuh degnan cara yang baik, dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik, dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan hewan sembelihan itu (mempecepat proses matinya)”.

Berihsan dengan menajamkan pisau untuk menyembelih hewan qurban tidak saja dilihat dari sudut pandang “kehewanan” tetapi juga menunjukkan kerja yang efektif dan efisien. Dalam sistem kerja masyarakat modern, efektifitas dan efisiensi merupakan tuntutan utama yang harus dimiliki semua orang jika ingin berhasil.

Selain ihsan dikenal juga itqan, yaitu proses kerja dengan standar mutu terbaik. Seorang muslim dituntut untuk tidak kerja asal-asalan, tetapi berorientasi pada karya terbaik, indah dan memiliki kualitas yang diperhitungkan semua orang. Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya Allah menyukai seseorang jika melakukan suatu kerja dengan ber-itqan

3. Pentingya bekerja dalam Islam

Kerja merupkan wujud keberadaan manusia di muka bumi (mode of existence). Jika bapak filsafat modern Rene Descartes memformulasikan sebuah prinsip, aku berpikir maka aku ada (cogito ergo sum), maka dalam tema ini menjadi “aku bekerja maka aku ada”. Sesorang akan dikenal dan diperhitungkan berdasarkan kerja yang dilakukan. Selain kerja sebagai usaha memenuhi kebutuhan, juga sebagai penunjukkan jati diri masyarakat dengan ideologi yang diyakininya. Masyarakat di beberapa negara maju asia seperti Jepang, Korea Selatan dan Hongkong dikenal sebagai masyarakat pekerja. Satu dengan yang lain saling berlomba untuk bisa menjadi yang terbaik di Asia. Itulah yang disebut dengan fighting Spirit (semangan bersaing) dalam rangka mencapai idealisme ideologi yang mereka anut.

Fighting Spirit sudah ada dalam sistem ajaran islam. Dianjurkan kepada pemeluknya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Allah berfirman :

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 148)

Bekerja dengan semangat beramal soleh dalam rangka kejayaan diri, agama dan bangsa merupakan jargon yang tak akan pernah padam karena merupakan semangat utama yang bisa menjadikan pemeluk agama ini berada pada tingkatan tertinggi dalam peradaban manusia. Dan itu pernah terjadi pada masa sahabat dan daulah Islamiyah.

4. Mukmin yang Kuat lebih dicintai Allah

Kebanggaan sebagai suatu bangsa secara nyata telah menjadikan bangsa tersebut sebagai bangsa pesaing. Masyarakat Inggris pernah mengklaim dirinya sebagai manusia terdepan dalam sistem evolusi manusia ketika ditemukannya fosil manusia Fieltdown, yang kemudian berlanjut dengan penjajahan kepada bangsa-bangsa diberbagai tempat di dunia. Islam tidak mengajarkan rasisme seperti itu, tetapi menanamkan keberanian dan kepercayaan diri untuk melakukan banyak hal sebagai seorang muslim yang mukmin kepadaNya. Allah berfirman :

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah….” (QS. Ali-Imran : 110)

Atau sabda Rasulullah saw. :

“Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah, dan dalam berbagai hal (nyata) lebih baik”

Juga sabdanya saw. :

“Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya”

Kebanggaan sebagai seoarang muslim ini nyata telah menjadikan para sahabat dulu memiliki jiwa dan semangat yang membara dalam rangka menyebarkan Islam ke berbagai pelosok bumi. Semangat seperti ini seharusnya ditumbuhkan kembali dalam rangka menjadikan umat Islam saat ini bangkit dari perasaan terkucilkan, lemah, malas dan takut bersaing dengan negara atau bangsa lain.

Wallahu a’lam bi al-Showab