Filsafat dan Membentuk Pola Istinbath Hukum

Khazanah intelektual Islam dalam sejarahnya meliputi berbagai bidang keilmuan yang masing-masing menggunakan approach dan metodologi yang berbeda-beda. Diantaranya yaitu; Fikih, Teologi, dan Filsafat. Dalam disiplin fikih para fukaha sepakat untuk menggali hukum-hukum Islam dengan menggunakan metode khusus yang disebut ushul fiqh dan ‘ilm fiqh, sekaligus juga mengenal khaznah intelektual klasik Islam dalam disiplin ini. Dalam bidang teologi Islam, mengkaji bahasan tersebut haruslah terlebih dahulu mengenal tentang wilayah cakupan teologi Islam dan sejarah perkembangan aliran-aliran teologi ini. Sedangkan filsafat apabila khusus membahas aliran filsafat tertentu maka yang harus dipahami oleh seorang penulis adalah seperti pengantar filsafat, filsafat Ilmu dan corak pemikiran aliran filsafat itu.

Berbeda dengan bidang yang lain, filsafat hampir memasuki semua wilayah disiplin keilmuwan, baik itu dalam bidang agama maupun yang umum. Hal itu karena disiplin ini sifatnya mendasar dan sangat menunjang untuk pengkajian suatu bidang keilmuan dengan lebih mendalam. Dalam bidang agama filsafat telah mengambill tempat khusus dalam wilayah pemikiran Islam. Dalam sejarahnya disiplin ini selain mendapat antusias yang tinggi oleh para ulama muslim di satu sisi, tetapi juga di sisi lain mendapat tentangan dan tantangan, khususnya oleh para ulama muslim ortodok. Hal tersebut muncul karena adanya kekhawatiran mereka akan dampak filsafat yang membuat seseorang terjebak dalam berpikir bebas dalam bidang agama dan berdampak pada keraguan total terhadap sebagian atau keseluruhan bangunan ajaran Islam yang fundamental.

Terlepas dari pertentangan para ulama tersebut, penulis melihat bahwa biar bagaimanapun filsafat merupakan disiplin keilmuwan yang mempunyai peran besar dalam perkembangan khazanah intelektual Islam, termasuk di dalamnya bidang fikih dan teologi Islam. Ibnu Taimiyyah saja yang dikenal sebagai pemikir fanatik dan reaksioner dalam usahanya membongkar kepalsuan logika Aristoteles, mengatakan bahwa keharusan berpikir logis tidaklah dapat ditinggalkan (Madjid, 1994: 39). Dalam bidang fikih, peran filsafat dalam membentuk pola istinbath dan kajian hukum-hukum Islam tersebut dapat dirasakan apabila kita mempelajari dengan seksama kajian hukum seseorang yang pernah mengecap pendidikan filsafat. Tentu saja akan ada perbedaan dengan kajian yang dilakukan oleh seorang ulama yang hanya berlandaskan koridor ilmu fikih ­an sich. Contohnya hasil kajian fikih seorang failasuf ternama Ibnu Rusyd yang tertuang dalam buku monumentalnya Bidâyah al-Mujtahid. Nurcholish Madjid mengatakan bahwa diantara para failasuf, tidak ada yang menyamai Ibnu Rusyd dalam keahliannya di bidang fikih. Dan berkat latihan intelektual sebagai seorang failasuf, maka buku fikihnya Bidâyah al-Mujtahid diketahui sebagai karya dengan sistematika yang terbaik di bidang jurisprudensi Islam tersebut.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.